Minggu, 08 Januari 2012

SOP perawatan nefrostomi



Introduksi
a. Definisi
Suatu tindakan pembedahan untuk menyalirkan urin atau nanah dari sistem pelvikaliseal melalui insisi di kulit.
b. Ruang lingkup
Penderita yang datang dengan keluhan nyeri pinggang belakang, pada pemeriksaan fisik teraba massa pada pinggang disertai nyeri ketok pinggang disertai  demam atau menggigil, dan anuria. Pada pemeriksaan USG didapatkan adanya hidronefrosis atau pyonefrosis.
c. Indikasi operasi
  • uropati obstruktif
  • pionefrosis
e. Diagnosis Banding untuk uropati obstruktif
  • anuria pre renal
  • anuria intra renal
f. Pemeriksaan Penunjang
Darah lengkap, tes faal ginjal, sedimen urin, kultur urin dan tes kepekaan antibiotika, foto polos abdomen, pyelografi intravena, USG.
Teknik Operasi
Nefostomi untuk uropati obstruktif dapat dilakukan dengan 2 cara:
1. Terbuka, ada 2 macam teknik:
  • Bila korteks masih tebal
  • Bila korteks sudah sangat tipis
2. Perkutan
Nefrostomi Terbuka
  • Dengan pembiusan umum, regional atau lokal.
  • Posisi lumbotomi.
  • Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
  • Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
  • Insisi kulit dimulai dari tepi bawah arkus kosta XI sampai ke arah umbilikus sepanjang 10-15 cm, diperdalam  lapis  demi  lapis  dengan memotong fascia eksterna, muskulus interkostalis di belakang  dan muskulus oblikus abdominis  di depan sampai didapatkan fascia abdominis internus. Fasia abdominis internus dibuka, kemudian peritoneum disisihkan dari fascia.
  • Fascia gerota dibuka sepanjang tepi ginjal.
  • Bila korteks masih tebal: ginjal harus dibebaskan sampai terlihat pelvis renalis. Pelvis renalis dibuka dengan sayatan kecil 1-1,5 cm. Klem bengkok dimasukkan melalui sayatan tersebut ke arah kaliks inferior atau medius menembus korteks sampai keluar ginjal, kemudian dimasukkan kateter Foley Ch 20 ke dalam pelvis dengan cara dijepitkan pada klem tersebut. Isi balon kateter dengan air 3-5 cc.
  • Jahit pelvis renalis dengan jahitan satu-satu dengan benang yang dapat diserap.
  • Bila korteks sudah sangat tipis: korteks langsung dibuka dengan sayatan 1-1,5 cm dan langsung dimasukkan kateter Foley Ch 20 atau 22. Sedapat mungkin ujung kateter berada di dalam pyelum. Isi balon kateter dengan air 3-5 cc.
  • Buat jahitan fiksasi matras atau kantong tembakau pada tempat keluar kateter (pada dinding ginjal) dengan benang yang dapat diserap.
  • Keluarkan pangkal kateter melalui insisi pada kulit, terpisah dari luka operasi, dan difiksasi.
  • Pasang drain vakum perirenal.
  • Tutup  lapangan operasi lapis demi lapis dengan jahitan situasi.
Nefrostomi Perkutan
  • Dilakukan dengan alat fluoroskopi.
  • Dengan pembiusan umum, regional atau lokal.
  • Posisi pronasi, perut sisi yang sakit diganjal bantal tipis.
  • Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
  • Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
  • Dilakukan pungsi ke arah ginjal, bila yang keluar urin, masukkan kontras secukupnya sehingga tampak gambaran sistem kolekting di monitor. Bila perlu lakukan pungsi kedua ke arah yang lebih tepat (biasanya kaliks inferior atau medius).
  • Mandrin (isi jarum pungsi bagian dalam) dikeluarkan, masukkan kawat penuntun (guide wire) ke dalam bungkus (sheath) jarum pungsi.
  • Lakukan dilatasi dengan dilator khusus, masukkan kateter Foley Ch 20 dengan tuntunan kanula khusus. Kembangkan balon kateter dengan air 5-10 cc.
  • Fiksasi kateter dengan kulit.
g.  Komplikasi operasi
Komplikasi pasca bedah ialah perdarahan, ekstravasasi urin.
h.  Perawatan Pascabedah
  • Ukur jumlah urin dan produksi drain sebagai pedomen terapi cairan dan elektrolit.
  • Kateter jangan sampai tertekuk, terjepit atau tertarik sehingga mengganggu kelancaran aliran urin.
  • Pelepasan kateter sesuai indikasi.
  • Pelepasan drain bila dalam 2 hari berturut-turut setelah pelepasan kateter produksinya < 20 cc/24 jam.
  • Pelepasan benang jahitan keseluruhan 10 hari pasca operasi.
i. Follow-up
  • Pyelografi antegrad dilakukan setelah keadaan penderita stabil
  • Nefrostomi pada uropati obstruktif bersifat sementara. Segera setelah keadaan umum penderita membaik, lakukan tindakan definitif untuk mengatasi penyebab uropati obstruktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar