Minggu, 22 Januari 2012

LAPORAN PENDAHULUAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN



Pengertian

Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).
Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 1991; 1418).

ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut (Indah, 2005)

a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
b. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract)
c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.


a. Angka kejadian dan diagnosis

Pada rumah sakit umum yang telah menjadi rumah sakit rujukan terdapat 8,76 %-30,29% bayi dan neonatal yang masih mengalami infeksi dengan angka kematian mencapai 11,56%-49,9%. Pengembangan perawatan yang canggih mengundang masalah baru yakni meningkatnya infeksi nosokomial yang biasanya diakhiri dengan keadaan septisemia yang berakhir dengan kematian (Victor dan Hans; 1997; 220).


Diagnosis dari penyakit ini adalah melakukan kultur (biakan kuman) dengan swab sebagai mediator untuk menunjukkan adanya kuman di dalam saluran pernafasan. Pada hitung jenis (leukosit) kurang membantu sebab pada hitung jenis ini tidak dapat membedakan penyebab dari infeksi yakni yang berasal dari virus atau streptokokus karena keduanya dapat menyebabkan terjadinya leukositosis polimorfonuklear (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 453).


b. Etiologi dan karakteristik

Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991; 1419).
Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A b-hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma dan pneumokokus.

Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu.
Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.
Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru.

Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).


c. Manifestasi klinis

Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hisung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).


d. Terapi dan Penatalaksanaan

Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.

Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 452).



e. Diagnosis banding

Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri, mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana. Mereka masing-masing dibedakan melalui biakan kultur melalui swab, hitungan darah dan test Paul-bunnell. Pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akuta yang sering disertai dengan muntah (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 454).

TANDA DAN GEJALA
Sebagian besar anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran nafas bagian bawah memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat dan retraksi dada. Selain batuk gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu flu, demam dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 0 C dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002).
Tanda dan gejala menurut tingkat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu (Suyudi, 2002) :

1. ISPA Ringan
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut :

a) Batuk.
b) Serak, yaitu bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).
c) Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
d) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas.

2). Gejala ISPA Sedang

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :

a) Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.
b) Suhu lebih dari 390C.
c) Tenggorokan berwarna merah
d) Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak
e) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
f) Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.
g) Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.

3). Gejala ISPA Berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:

a) Bibir atau kulit membiru
b) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas
c) Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun
d) Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah
e) Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah
f) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas
g) Nadi cepat lebih dari 60 x/menit atau tidak teraba
h) Tenggorokan berwarna merah


PENULARAN
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara, pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.


F. PENCEGAHAN ISPA
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:

1). Mengusahakan Agar Anak Mempunyai Gizi Yang Baik
a) Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi.
b) Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.
c) Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
d) Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-buahan.
e) Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.
Dinkes DKI (2005)

2). Mengusahakan Kekebalan Anak Dengan Imunisasi

Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi yaitu DPT (Depkes RI, 2002). Imunisasi DPT salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya adalah infeksi saluran nafas (Gloria Cyber Ministries, 2001).

3). Menjaga Kebersihan Perorangan Dan Lingkungan

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).

4). Pengobatan Segera
Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter (PD PERSI, 2002)


G. PENGOBATAN PADA ISPA
- ISPA Berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus , di beri oksigen dan sebagainya

- ISPA ringan : diberi obat antibiotik melaui mulut. Pilihan obatnya Kotrimoksasol, jika terjadi alergi / tidak cocok dapat diberikan Amoksilin, Penisilin, Ampisilin

- ISPA ringan : tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.


H. PERAWATAN DIRUMAH
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA.

1. Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan samapai 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

3. Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

4. Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.

5. Lain-lainnya
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung , yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.

I. PEMBERANTASAN ISPA
Yang Dilakukan Adalah :
- Penyuluhan kesehatan yang terutama di tujukan pada para ibu.
- Pengelolaan kasus yang disempurnakan.
- Immunisasi
- Menghindari anak kontak langsung dengan penderita ISPA

Sedangkan kegiatan yang dapat dilakukan oleh kader kesehatan adalah diharapkan dapat membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia sehingga dapat :

1) Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit.

2) Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih.


3) Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.
4) Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol.

5) Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk



f. Pengkajian terutama pada jalan nafas
Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.

Pola, cepat (tachynea) atau normal.
Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.
Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.

Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum (Whaley and Wong; 1991; 1420).


g. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman, pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia dan pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Victor dan Hans; 1997; 224).


h. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, tujuan dan intervensi
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada saluran pernafasan, nyeri.

Tujuan:
Pola nafas kembali efektif dengan kriteria: usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai oksigen ke paru-paru.
Intervensi:
a. Berikan posisi yang nyaman sekaligus dapat mengeluarkan sekret dengan mudah.
b. Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang bebas.
c. Anjurkan pada keluarga untuk membawakan baju yang lebih longgar, tipis serta menyerap keringat.
d. Berikan O2 dan nebulizer sesuai dengan instruksi dokter.
e. Berikan obat sesuai dengan instruksi dokter (bronchodilator).
f. Observasi tanda vital, adanya cyanosis, serta pola, kedalaman dalam pernafasan.


2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan produksi sekret.
Tujuan:
Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret dengan kriteria: jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya pengeluaran sekret.

Intervensi:
a. Lakukan penyedotan sekret jika diperlukan.
b. Cegah jangan sampai terjadi posisi hiperextensi pada leher.
c. Berikan posisi yang nyaman dan mencegah terjadinya aspirasi sekret (semiprone dan side lying position).
d. Berikan nebulizer sesuai instruksi dokter.
e. Anjurkan untuk tidak memberikan minum agar tidak terjadi aspirasi selama periode tachypnea.
f. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan perparenteral yang adekuat.
g. Berikan kelembaban udara yang cukup.
h. Observasi pengeluaran sekret dan tanda vital.


3. Cemas berhubungan dengan penyakit yang dialami oleh anak, hospitalisasi pada anak
Tujuan:
Menurunnya kecemasan yang dialami oleh orang tua dengan kriteria: keluarga sudah tidak sering bertanya kepada petugas dan mau terlibat secara aktif dalam merawat anaknya.

Intervensi:
a. Berikan informasi secukupnya kepada orang tua (perawatan dan pengobatan yang diberikan).
b. Berikan dorongan secara moril kepada orang tua.
c. Jelaskan terapi yang diberikan dan respon anak terhadap terapi yang diberikan.
d. Anjurkan kepada keluarga agar bertanya jika melihat hal-hal yang kurang dimengerti/ tidak jelas.
e. Anjurkan kepada keluarga agar terlibat secara langsung dan aktif dalam perawatan anaknya.
f. Observasi tingkat kecemasan yang dialami oleh keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II. alih bahasa oleh Dr. yohanes gunawan. Jakarta: EGC.

Whalley & wong. (1991). Nursing Care of Infant and Children Volume II book 1. USA: CV. Mosby-Year book. Inc

Yu. H.Y. Victor & Hans E. Monintja. (1997). Beberapa Masalah Perawatan Intensif Neonatus. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

Senin, 09 Januari 2012

KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL


KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL





   A.    Pengertian
Kerusakan interaksi sosial adalah suatu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkah maladaptif dan mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya (Stuart dan Sundeen, 1998).
Kerusakan sosial adalah suatu keadaan seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang tidak efektif (Towsend, 1998).
Klien yang mengalami kerusakan interaksi sosial mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain yang salah satunya mengarah pada perilaku menarik diri.
   B.     Etiologi
Menurut Townsend (1998) penyebab penarikan diri dari masa bayi sampaitahap akhir perkembangan adalah:
a. Kelainan pada konsep diri
b. Perkembangan ego yang terlambat
c. Perlambatan mental yang ringan sampai sedang
d. Abnormalitas SSP tertentu, seperti adanya neurotoksin, epilepsi, serebral palsi,
    atau kelainan neurologist lainnya
e. Kelainan fungsi dari sistem keluarga
f. Lingkungan yang tidak terorganisir dan semrawut
g. Penganiayaan dan pengabaian anak
h. Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan
i. Model-model peran yang negatif
j. Fiksasi dalam fase perkembangan penyesuaian
k. Ketakutan yang sangat terhadap penolakan dan terlalu terjerumus
l. Kurang identitas pribadi
Manusia dalam memenuhi kebut uhan sehari-hari, selalu membutuhkan
orang lain dan lingkungan sosial. Rentang respon sosial berfluktuasi dengan
rentang adaptif sampai rentang maladaptif.

   C.    Rentang respon neurobiologi

Gambar
Respon sosial                                                            Respon maladaptif

               Gambar1.Rentang respons sosial(Stuart dan Laraia,1998)
1.      Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma -norma
sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku di masyarakat. Respon adaptif
terdiri dari :
·         Menyendiri(Solitude)
Merupakan respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. Solitude umumnya dilakukan setelah melakukan kegiatan.
·         Otonomi
Merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
·         Bekerja sama (mutualisme)
adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
·         Saling tergantung (interdependen)
Merupakan kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal
.
2.      Respon maladaptif
Respon maladaptif adalah respon yang menimbulkan gangguan dengan
berbagai tingkat keparahan (Stuart dan Sundeen, 1998). Respon maladaptif terdiri
d
ari :
·         Manipulasi
Merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
·         Impulsif
Individu impulsif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat diandalkan.
·         Narkisisme
Pada individu narkisisme terdapat harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egosenetris, pencemburuan, marah jika orang lain tidak mendukung.
   D.    Proses keperawatan
a.      Pengkajian
Untuk dapat merawat klien dengan gangguan hubungan sosial pada tahap pertama harus dilakukan pengkajian. Dalam pengkajian ada beberapa faktor yang perlu dieksplorasi yaitu faktor pendukung/predisposisi, faktor pencetus/presipitasi terjadinya gangguan hubungan sosial, perilaku klien, dan mekanisme koping.
b.Faktor pencetus1)  Faktor perkembangan     Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembanganrespon sosial                         yang maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa individu yang mempunyai masalah ini adalah orang yang tidak berhasil memisahkan diri dari orang tua. Norma keluarga mungkin tidak mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain di luar keluarga. Keluarga seringkali mempunyai peran yang tidak jelas. Orang tua pecandu alkohol dan penganiaya anak juga dapat mempengaruhi seseorang berespons sosial maladaptif. Organisasi anggota keluarga bekerjasama dengan tenaga profesional untuk mengembangkan gambaran yang lebih tepat tentang hubungan antara kelainan jiwa dan stress keluarga. Pendekatan kolaboratif sewajarnya mengurangi menyalahkan keluarga oleh tenaga profesional.
2)FaktorBiologis
Faktor genetik juga dapat menunjang terhadap respons social
 maladaptif. Ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmiter dalamperkembangan gangguan ini, namun masih tetap diperlukan penelitian lebihlanjut mengenai kebenaran keterlibatan neurotransmiter.
3)Faktorsosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan. Ini
 akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti lansia, orang cacat, dan berpenyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karenamengadopsi norma, perilaku, dan sistem nilai yang berbeda dari kelompokbudaya mayoritas. Harapan yang tidak realistik terhadap hubunganmerupakan faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini
4) Faktor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung untuk terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini termasuk masalah kounikasi yang tidak jelas(double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan, ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluarkeluarga.
c. Faktor fresipitasi
Faktor fresipitasi terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor fresipitasi dikelompokkan menjadi:
1)      faktor eksternal
contohnya adalah stresor sosial budaya, yaitu stres yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya yang antara lain adalah keluarga.
2)      Faktor internal
Contohnya adalah stresor psiologik, yaitu stres terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntunan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan ketergantungan individu.
            e. mekanisme koping
            mekanisme pertahanan diri yang sering digunakan pada masing-masing gangguan
            hubungan sosial sangat bervariasi, seperti pada curiga adalah regresi, proyeksi,
            represi. Pada dependen adalah regresi, pada manipulasi adalah regresi, represi, isolasi,
menarik dari adalah regresi, represi, isolasi.
d. Tingkah laku klien menarik diri
·         Kurang spontan.
·          Apatis (acuh terhadap lingkungan).
·          Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih).
·          Afek tumpul
·         Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
·         Komunikasi verbal menurun atau tidak ada. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat.
·         Mengisolasi diri (menyendiri). Klien tampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan.
·         Tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya.
·         Retensi urine dan faeces.
·         Aktifitas menurun.
·         Kurang energi (tenaga).
·         Harga diri rendah.
·         Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap      
    E  .     Masalah keperawatan
Masalah keperawatan yang muncul terkait dengan masalah gangguan hubungan sosial adalah(Carpenito, 1995):
1)      Ansietas
2)      Isolasi sosial
3)      Harga diri rendah
4)      Defisit perawatan diri
5)      Resiko mencederai diri
Diagnosa yang muncul:
1)      Resiko perubahan sensori persepsi: halusinasi barhubungan dengan menarik dari
2)      Isolasi diri: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
   F.     Rencana keperawatan
Kerusakan Interaksi sosial :Menarik diri
TUPAN :
Klien dapat berinteraksi sosial dengan orang lain dalam aktivitas sosial secara mandiri dengan cara yang pantas dan dapat diterima,tanpa hambatan,atau kesulitan

TUPEN 1
Setelah dilakukan interaksi selama...x,klien mengetahui hambatan/kesulitannya dalam berinteraksi sosial,dengan kriteria hasil:
a.Klien mampu mengidentifikasi kesulitan yang dimilikinya
b.klien mampu mengungkapkan kesulitannya dalam berinteraksi
c.Klien mampu mengungkapkan perasaannya

Rencana Tindakan :
1.      Bina hubungan yang kompleks(Complek Relationship Building)
a.BHSP(Prinsip komunikasi terapetik,pertahankan konsistensi,sikap terbuka,tepat  janji,hindari kesan negative)
b.Bantu klien mengidentifikasi perasaan yang menghalangi kemampuan berinteraksi    dengan orang lain
c. dorong klien mengungkapkan perasaan yang menyebabkan kesulitan
d. berikan respon pada bahasa non verbal klien dengan cara yang tepat
e. Klarifikasi pesan non verbal klien dengan cara yang tepat
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

TUPEN 2
Setelah dilakukan interaksi selama....x,klien mempunyai perilaku yang efektif dan menggunakannya untuk mendukung ketrampilannya melakukan interaksi sosial,dengan kriteria hasil:
a.bersikap lebih terbuka
b.Assertif
c.kooperatife
d.sensitif dengan lingkungan sekitar
e.tenang
f.kompromi terhadap perbedaan pendapat dengan orang laen
g.lebih perhatian dengan orang laen

Rencana Tindakan :
1. Modifikasi perilaku:ketrampilan sosial(Behavior modification:social skill)
Bantu klien mengidentifikasi masalah masalah interpersonal yang menyebabkan tidak kuatnya interaksi dengan orang laen
b.Identifikasi kelebihan dan kemampuan yang ingin diterapkan pada hubungan interpersonal
c.bantu klien mengidentifikasi tahapan perilaku yang ingin dicapai dalam interaksi   sosial
d.Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta                   penyebabyang muncul.
e. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

TUPEN 3
Setelah dilakukan interaksi selama.....x,kemampuan klien berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara mandiri meningkat,dengan kriteria hasil:
a.Klien mau dan mampu bekerja sama dengan orang laen
b.perhatian klien dengan orang laen meningkat
c.Klien mampu menggunakan bahasa verbal dan non verbal dengan tepat
d.klien mampu mempersipkan pesan yang diterima dari orang laen dengan tepat
e.Klien mampu memberikan pesan.

Rencana Tindakan :
Tingkatkan sosialisasi(socializatyion enhancemen)
a.Dukung pengembangan keterlibatan klien dalam hubungan yang telah terbina
b.anjurkan klien untuk selalu menghormati hak hak orang laen.
c.Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan   berhubungan dengan orang lain.
d.Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
e.Beri reinforcemant positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
   keuntungan berhubungan dengan orang lain
f.Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
g.Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian   
   bila tidak berhubungan dengan orang lain.
h. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
i. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
    kerugian tidak berhubungan dengan orang lain

TUPEN 4
Setelah....x berinteraksi,klien mendapat dukungan keluarga dan bisa memanfaatkan dukungan tersebut untuk mengekpresaikan perasaan dan pikirannya dengan kriteria hasil:
a.Klien dapat dukungan keluarga selama dalam keperawatan
b.Klien mampu mengungkapkan harapan dan keinginannya dari dukungan keluarga
c.Klien mampu mengungkapkan perasaannya kepada keluarga
d.Keluarga berperan serta dalam upaya pemecahan masalah klien
Rencana Tindakan :
1.Tingkatkan Integritas Keluarga(family integrity Promotion)
a.BHSP dengan anggota keluarga
b.Monitor antara interaksi dengan keluarga
c.Identifikasi pola dan tipe hubungan keluarga
d.Identifikasi mekanisme koping keluarga
e. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
f. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
g. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
h. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.                                     
i. Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.

G.    Penatalaksanaan
Menurut Keliat, dkk.,(1998), prins ip penatalaksanaan klien menarik diri
adalah:
a. Bina hubungan saling percaya
b. Ciptakan lingkungan yang terapeutik
c. Beri klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
d. Dengarkan klien dengan penuh empati
e. Temani klien dan lakukan komunikasi tera peutik
f. Lakukan kontak sering dan singkat
g. Lakukan perawatan fisik
h. Lindungi klien
i. Rekreasi
j. Gali latar belakang masalah dan beri alternatif pemecahan
k. Laksanakan program terapi dokter
l. Lakukan terapi keluarga

Penatalaksanaan medis (Rasmun,2001):
a. Obat anti psikotik
  1) Clorpromazine (CPZ)
        a) Indikasi
Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menila
realitas,    kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi -fungsi mental: waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau, tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari -hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
       b) Mekanisme kerja
Memblokade dopamine pada reseptor paska sina p di otak khususnya
 sistem ekstra piramidal.
        c) Efek samping
Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/ parasimpatik,
mulut kering, kesulitan dalam miksi, dan defikasi, hidung tersumbat,mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama ja ntung),gangguan ekstra piramidal (distonia akut, akatshia, sindromaparkinson/tremor, bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin, metabolik, hematologik, agranulosis, biasanya untuk pemakaian jangka panjang.
        d) Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris,
ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran disebabkan
CNS Depresan.
2) Haloperidol (HP)
             a) Indikasi Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral      serta dalam fungsi kehidupan sehari -hari. b) Mekanisme kerja     Obat anti psikosis dalam memblokade dopamine pada reseptor paska     sinaptik neuron di otak khususnya sistem limbik dan sistim ekstra     piramidal.
c) Efek samping
    Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi,    antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi,    hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan    irama jantung).
d) Kontra indikasi
    Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris,    ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.
3) Trihexy phenidyl (THP)
a) Indikasi
    Segala jenis penyakit parkinson,termasuk paska ensepalitis dan    idiopatik,sindrom parkinson akibat obat misalnya reserpin dan    fenotiazine.
b) Mekanisme kerja
    Obat anti psikosis dalam memblokade dopamin pada reseptor p aska    sinaptik nauron diotak khususnya sistem limbik dan sistem ekstra    piramidal.
c) Efek samping
     Sedasi dan inhibisi psikomotor    Gangguan otonomik (hypertensi, anti kolinergik/ parasimpatik, mulut    kering, kesulitanmiksi dan defikasi, hidung tersumbat, mata k abur,    tekanan intra oluker meninggi, gangguan irama jantung).
d) Kontra indikasi
    Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, fibris,    ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran .